TGB Serukan Mahasiswa Jadi Duta Perdamaian

Gubernur NTB Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA., hadir membuka kegiatan “Youth Camp Lombok for Peace Leaders“, Senin(22/1). Kegiatan yang dipusatkan di area pantai Klui, Desa Malakka, Kecamatan Pemenang, KLU ini dihadiri 200 mahasiswa dari 78 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

TGB sapaan akrab Zainul Majdi didaulat mengisi majelis harmoni dengan tema Islam Rahmatan lil Alamin. Dalam paparannya, TGB mengingatkan agar mahasiswa mampu menjadi agen perdamaian. Selama ini kata TGB, banyak terjadi kekerasan mengatasnamakan agama akibat pemahaman terhadap Islam yang salah. Padahal sejatinya Islam mengajarkan kedamaian.

TGB Ajak Mahasiswa Berdialog

Islam adalah agama yang tidak tertutup, melainkan senantiasa membangun silaturahim, berdiskusi, berkenalan dalam konteks yang baik dengan pemeluk agama lainnya. Karena silaturahim itulah jadi konteks yang subur mengenalkan Islam yang baik.

Di samping itu, TGB juga menyinggung adanya keinginan sebagian masyarakat Indonesia yang ingin mendirikan sistem berbeda dengan sistem yang dipraktikkan saat ini. Tentu kata TGB, tidak segampang itu, mengingat bangsa Indonesia merupakan hasil akumulasi dari perjuangan lokalitas para pejuang. Bukan diberikan secara gratis. Sehingga demikian, jangan sampai hancur akibat kita tidak bisa mensyukuri nikmat sebagai bangsa Indonesia.

Sementara itu, Direktur Nusatenggara Centre Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., mengemukakan kegiatan ini dilaksanakan berkat kerjasama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri-UIN Jakarta dan Nusatenggara Center (NC) NTB.

Dia mengemukakan, di Indonesia, kekerasan, radikalisasi, terorisme, dan ekstremisme mengalami peningkatan. Lebih dari 200 kasus kekerasan berbasis agama setiap tahunnya terjadi. Hal ini ditandai oleh meningkatnya kelompok-kelompok yang melakukan aksi radikalisme dan ekstremisme, kasu-kasus tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia  seperti di pulau, Sulawesi, Sumatra, Aceh, Maluku ,NTB, dan lain-lain.

Sejumlah catatan penting lainnya berkaitan dengan gerakan radikalisme dan ekstremisme  antara lain adalah masih menguatnya narasi  kekerasan di kalangan pemuda baik di sekolah-sekolah, pondok pesantren dan perguruan tinggi. Kalangan pemuda merupakan segmen yang belum sepenuhnya terlepas dari cengkeraman gerakan radikal dan terorisme. Remaja merupakan kelompok yang rentan terpengaruh ideologi radikal.

Salah satu indikator misalnya masih banyak remaja yang mendukung, menyatakan sikap setuju dengan gerakan ekstremisme  berbasis keagamaan. Selain itu, banyak pelaku tindakan radikal dan terorisme yang tertangkap di wilayah NTB adalah usia muda. Di samping masih menguatnya narasi kekerasan di kalangan pelajar sekolah dan bahkan mahasiswa.

Masih kuatnya narasi kekerasan dan ekstremisme  di kalangan pemuda ini, selain disebabkan oleh pengaruh teknologi internet juga karena kuatnya strategi kelompok-kelompok garis keras dalam menyebarkan doktrin-doktrin keagamaan mereka di kalangan remaja dan pelajar.

Kelompok ini secara intens aktif membidik kelompok muda dan menanamkan ideologi keagamaan radikal. Kondisi psikologis remaja yang  masih labil dimanfaatkan oleh jaringan radikal dalam mendekati dan merekrut kalangan ini.

“Oleh karena itu, diperlukan program penanggulangan kekerasan, ektremisme, dan radikalisme bagi kalangan pemuda terutama mahasiswa,” tegas Suprapto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *