Peresean: Sebuah Kisah

 

tradisi peresean wisata lombok
                                                                Persean (flicker.com)

Orang-orang tanpa ragu memanggil ayah sebagai Harimau. Harimau paling gesit mencengkram mangsa. Matanya menyorot sesosok mangsa yang siap ia terkam. Ayah berjongkok di balik ende1 sambil memegang penjalin2 mengumpulkan kebuasan. Peluit pekembar3 mengundangnya ke tengah arena.

***

Aku, Ayah, dan Uaq Atok langsung menuju lapangan kecamatan setelah solat asar. Beberapa anggota polisi sedang duduk di kursi plastik depan gerbang kantor kecamatan. Polisi yang bertubuh kurus berkulit putih sedang menelpon sementara yang lainnya hanya mengobrol. Beberapa orang panitia sibuk mengatur penonton yang ingin memasukkan motornya. Ada bagian yang kosong di bawah pohon mangga yang tidak boleh diisi. Mereka juga tidak lupa meminta tiga ribu rupiah untuk uang parkir.

“Kelihatannya akan ada tamu penting yang hadir. Siapa ya?” Tanya ayah kepada tukang parkir.

“Wah, pepadu kita sudah datang. Hari ini banyak pejabat yang akan hadir. Camat dan beberapa kepala desa tetangga. Beberapa bule juga ingin nonton. Saweran sore ini pasti akan berlimpah-limpah. Kamu harus main.” Tukang parkir itu menepuk-nepuk lengan ayah. Ayah hanya membalas dengan senyum.

Ternyata ayah jadi maju bertarung. Sore itu aku baru tahu orang-orang menjuluki ayah sebagai Harimau. Entah di mana ayah menyembunyikan taring dan kukunya. Selama ini tangannya selalu lembut memeluk, bicaranya tak pernah menyentak, dan ketika tertawa, tak ada taring di mulutnya. Aku tahu dia bukan siluman. Atau mungkin saat ini ayah sedang kesurupan?

“Pertarungan peresean4 kali ini antara Harimau melawan Semberani….” Suara dari pengeras suara mengundang tepuk tangan dan sorakan penonton yang duduk melingkar. Musik gamelan mulai ditabuh. Di tengah arena pekembar mulai ngibing5 menimbulkan kepulan debu.

Baru kali ini aku melihat peresean. Itu pun langsung melihat ayah maju sebagai pepadu. Bajunya dilepas, pinggang diikat selendang, dan sapuk melilit kepala seperti prajurit kerajaan siap tempur yang pernah kulihat di museum dulu.

Peluit pekembar kembali terdengar. Suara menggelegar menyambut tabuhan gamelan yang semakin energik. Penjalin semberani langsung menggetarkan ende dari kulit kerbau yang ayah pegang.

Ada rasa kasihan melihat Ayah di tengah lingkaran itu. Jika saja aku tahu hari ini dia akan menjadi pepadu6, aku tak akan mau diajaknya kesini. Lebih baik menemani adik yang terbaring di rumah. Sudah seminggu ia demam. Di rumah aku bisa mengipasinya atau paling tidak sekedar membantunya melupakan rasa demam dengan dongeng Temelaq-melaq Mangan7 yang selalu diceritakan berulang-ulang oleh nenek ketika beliau masih hidup.

Suara ende yang dipukul menggelegak membelah dada. Keringat dinginku bercucuran.

“Ah, kenapa ayah harus membawaku ketempat peresean ini. Apakah ayah ingin mengajariku peresean?” Batinku.

Aku ingin sekali berlari ke tengah menarik tangannya pulang. Namun, tak pernah ada kesempatan. Para petugas keamanan selalu sigap tak membiarkan seorang penonton pun masuk ke arena pertandingan. Para petugas membentangkan penjalin ke arah penonton yang mulai berdiri bersorak mendukung jagoannya. Aku marah melihatnya. Ayah kelimpungan menangkis pukulan lawannya sampai-sampai terdesak ke arah penonton. Sebuah pukulan mendera tubuhnya. Bekas pukulan itu membentang lurus tepat di bawah tulang rusuknya. Seorang anak tak akan tega melihat ayahnya terluka. Pukulan itu seakan mendera tubuhku sendiri. Hatiku memar. Air mataku tumpah. Aku menangis memanggil-manggil ayah. Uaq Atok yang berada di samping mendekapku. Kepalaku dielus-elusnya.

“Laki-laki tidak boleh menangis, ayahmu pasti menang. Ronde pertama ayahmu sedang mempelajari kelamahan lawan!”

Aku tak bangga punya ayah seorang pepadu. Uaq Atok dan semua orang di tempat ini senang melihat orang diadu. Mereka terus bersorak melihat orang saling pukul dan saling serang. Bukankah itu namanya saling menyakiti?

“Uaq, kenapa mereka menyuruh ayah bertarung?”

“Wira, peresean itu melatih kita agar menjadi orang pemberani. Ini adalah tradisi kita. Kebanggaan kita sebagai orang Lombok. Laki-laki itu harus kuat. Tenang saja, nanti ayahmu akan mendapatkan hadiah. Itu lihat pak camat dan pak kepala desa sudah mengeluarkan saweran.” Terlihat laki-laki yang ditunjuk Uaq Atok maju ke depan menaruh beberapa lembar uang berwarna biru dan menimbunnya dengan sedikit tanah.

Ternyata benar kata Uaq Atok. Di ronde kedua ayah mengamuk mengayunkan penjalin. Ayah mengincar dua-tiga bagian tubuh semberani dalam sekali pukul. Sangat cepat. Semberani tak mampu menangkis. Pukulan itu masuk mengenai kepala lawannya.

Bocor…bocor…bocor!8” triak penonton.

Terlihat darah di kening semberani. Penjalin dan ende berhenti beradu. Namun, suaranya masih mendesing di telinga. Tak lagi terdengar jelas penonton berteriak apa. Orang-orang itu juga masih memainkan gamelan. Pekembar itu ngibing lagi. Beberapa saat kemudian mengangkat tangan ayah pertanda pertandingan dimenangkannya. Ayah dan semberani bersalaman dan berpelukan.

Usai bertanding ayah menyerahkan sebuah sarung kepadaku, hadiah yang diberikan kepada pepadu setelah bertatrung selain uang saweran tadi. Ayah pamit pada Uaq Atok dan teman-temannya. Aku digendongnya pulang. Dalam gendongannya aku hanya bisa sesenggukan menghabiskan sisa tangis.

***

Ayah duduk di atas batu yang biasa dipakai ibu menumbuk ramuan obat. Hanya itulah tempat duduk di rumah kami. Tak ada berugaq9 untuk sekedar berbaring sejenak melepas kaku punggung seperti rumah-rumah tetangga. Bahkan, tamu yang datang harus sabar berdiri menunggu jika tidak ada orang di rumah. Rumah kami sangat kecil. Tembok hanya sampai setengah badan. Sisanya menggunakan pagar dari anyaman bambu. Angin saja harus berdesak-desakan. Pengap sekali, mungkin angin tak betah di sana. Inilah yang membuatku tidak tahan di dalam rumah, apalagi dengan tubuh berkeringat seperti ini.

Angin sore itu mengibas lembut mencoba mengeringkan keringat yang masih membasahi tubuh kami. Aku ikut duduk sambil mengipasi memar di pinggang ayah dengan kipas bambu. Bekas penyjalin yang memerah melintang tadi terlihat semakin jelas. Warnanya berubah lebih gelap juga terlihat agak membengkak.

“Bukankah ini sangat sakit, Ayah?”

Ayah hanya mengangguk. Pandangannya menerawang langit kemerahan.

“Ayah tidak akan peresean lagi, kan?”

Ayah menatap mataku, mengangguk sambil tersenyum.

“Kenapa ayah mau peresean?”

“Nak, pasti kamu berfikir peresean itu hanya saling menyakiti. Jika demikian, kamu jangan pernah sekali-kali mencobanya. Ayah berjanji tidak akan pernah peresean lagi.”

Jawaban ayah membuatku sangat lega. Angin sore seakan masuk menguapkan beban yang dari tadi menumpuki hati. Aku tak akan melihat ayah peresean lagi. Tak dapat ku bayangkan, betapa tersinggungnya melihat orang-orang meneriakinya. Oarang-orang itu ingin ayah kesakitan. Mereka asyik menonton ayah yang harus berusaha keras menangkis deraan penjalin yang bertubi-tubi menyerang tubuhnya. Aku tak rela melihatnya kesakitan sebagai hiburan mereka.

Sejak kepulangan kami tadi sore, ibu terlihat murung. Sepertinya ibu juga sama sepertiku, tak suka melihat ayah peresean. Apalagi ketika mendengar komentar tetangga yang lewat di depan rumah.

“Suamimu hebat sekali, bisa mengalahkan sembrani hanya dalam dua ronde.”

Komentar tersebut semakin membuatnya murung. Biasanya ibu akan sangat cerewet kalu sudah hampir magrib aku belum juga mandi. Ibu akan ngomel-ngomel, menyeretku ke sumur, langsung mengguyur, dan bulu badanku langsung berdiri disengat dingin. Sore itu ibu hanya diam sambil memotong-motong sayuran tanpa menghiraukan kami yang lewat di depannya. Aku juga tak disuruhnya mandi seperti biasanya. Aku jadi khawatir, jangan-jangan aku telah mengecewakannya. Sejak hari itu aku berjanji akan mandi sendiri tanpa disuruh.

Selesai mandi aku mendengar mereka bertengkar. “Apa begini caramu mendidik anak kita? Kita tidak ingin kan melihatnya menjadi pepadu peresean?”

“Maafkan aku Dik, Aku sudah berjanji pada anak kita tidak akan peresean lagi. Ambillah amplop ini. Besok pagi bawalah anak kita ke dokter. Insyaallah cukup. Jumlahnya lumayan, tadi banyak yang memberi saweran. Sudahlah, sekarang aku juga berjanji kepadamu.”

“Kau masih ingat kan bagaimana ayah meninggal? Kalian semua keras kepala. ”Ibu terlihat menangis.

“Lihat anakmu, bagaimana kalau dia menirumu?”

***

“Kakekmu dulu juga seorang pepadu. Dia menjadi andalan desa kita. Setiap pertaruangan hampir selalu dimenangkannya. Tapi, hari itu mungkin hari yang kurang baik baginya. Lawannya mempunyai tubuh yang jauh lebih besar, tapi tetap saja dia terima tantangannya. Sudah terlanjur berdiri katanya, pantang untuk duduk lagi. Dia kalang kabut menangkal serangan lawan yang tenaganya seperti kerbau. Malang sekali, penjalinnya menghantam telak kepala kakekmu. Beliau meninggal di puskesmas. Katanya tempurung kepalanya retak.”

Harimau itu terbaring dengan selang di tubuhnya. Memar di tubuh lawannya telah ditukar dengan luka bacok. Mungkin karena sakit hati, lawannya masih saja menyerang ketika pertandingan sudah selesai. Pendukung ayah yang menganggap itu kotor dan tidak kesatria tak terima. Mereka menorobos ke arena dan mendorong lawan ayah. Penonton dari kubu lawan juga tidak terima. Kerusuhan itu pun terjadi. Aku mengira ayah sungguh-sungguh dengan janjinya. Ah, harimau memang suka bertarung. Aku takut menjadi anak harimau.

 

  1. Ende = Perisai yang terbuat dari kulit kerbau.
  2. Penjalin = Tongkat dari rotan.
  3. Pekembar =
  4. Peresean = Pertandingan adu ketangkasan menggunakan tongkat rotan untuk memukul dan perisai untuk menangkis.
  5. Ngibing = Menari
  6. Pepadu             = Petarung dalam peresean.
  7. Temelaq-melaq Mangan= Dongeng rakyat Lombok yang berarti Si Doyan Makan.
  8. Bocor = Kepala yang terluka mengeluarkan darah.
  9. Berugaq = Balai-balai tempat menerima tamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *